Tips Memotret Di Pantai
Kondisi
Lokasi Pantai
Lokasi pantai umumnya ya terdapat pasir,
ada air laut, biasanya ini yang menjadi obyek utama POI (point of interest)
dalam fotografi pantai. Terus apa lagi ? Ada langit, ada awan, perahu dan
sedikit pepohonan yang biasanya adalah pohon-pohon kelapa. Tapi dengan jumlah
obyek yang itu-itu saja, ternyata banyak kreatifitas yang bisa kita gali
disana, karena kombinasinya menjadi tak terbatas jika kita masukkan unsur
waktu. Hunting foto waktu pagi, waktu siang atau waktu sore tentu akan berbeda,
juga kecepatan shutter lambat atau cepat tertentu akan menghasilkan hasil yang
masing-masing unik.
Amati lokasi hunting dan temukan obyek
menarik. Obyek menarik tidak harus yang wah, kadang yang sederhana justru yang
paling menarik. Tentu berbeda-beda cara pandang untuk setiap orang. Yang paling
gampang misalnya ambil foto pasir putih pantai, laut berombak dan langit
berawan. Ini adalah kombinasi standar foto di pantai. Di frame yang lain
ikutkan batu karang, dermaga panjang, kayu tua mati atau pohon kelapa. Namanya
hunting foto, mata harus melek dan jeli, seperti elang menangkap mangsa #halah.
Komposisi
Di Pantai
Pantai
adalah lokasi paling mudah belajar komposisi, mengapa ? Karena ada horizon
laut. Sudah tahu kan aturan Rule of Third ? (kalau belum tahu baca disini). Horizon laut ini bisa kita gunakan
sebagai penanda garis bawah atau garis atas dari batas-batas Rule
of Third. Misalkan kita ambil komposisi 1/3 pantai, 1/3 laut dan
1/3 langit. Jika ada obyek lain misal perahu, bisa kita atur agar perahu
tersebut terletak 1/3 frame dan menuju 2/3 frame lainnya sehingga foto
seakan-akan bisa bercerita “perjalanan masih jauh”.
Selain
itu di pantai pandangan bisa luas ke segala arah, tidak terdapat obyek-obyek
yang membuat distract atau
mengganggu komposisi yang akan kita ambil. Gampangnya bandingkan melakukan
komposisi di pantai dengan di pasar dimana banyak obyek yang mengganggu. Tentu
lebih mudah di pantai.
Nah
ambil kesempatan ketika di pantai untuk memantapkan teknik komposisi. Ide lain
adalah abaikan aturan Rule
of Third dan langgar
semua konsep komposisi dan berkreasi diluar pakem untuk melatih instinct dalam komposisi.
Pencahayaan
Emas
Ada
istilah “be early or be late”.
Datang pagi-pagi sekali, atau sore aja sekalian asal jangan malam hari *lol*.
Karena kondisi laut yang terbuka maka cahaya Matahari juga melimpah. Sehingga
kalau terlalu siang akan sangat sulit mengatur pencahayaan. Paling mantap
adalah menggunakan waktu-waktu yang disebut golden hour, yaitu
dari mulai Matahari terbit hingga sebelum hari terlalu siang (kira-kira sebelum
jam 08.00 pagi) dan juga saat sore yaitu sekitar pukul 16.00 hingga sebelum
Matahari seluruhnya tenggelam.
Pada
waktu-waktu itu, cahaya Matahari lebih lembut dan dramatis, langit juga masih
bergradasi dari warna biru kuning dan memerah merupakan obyek yang menggiurkan
bagi fotografer landscape. Perlu diperhatikan pada kondisi ini cahaya masih
sangat minim sehingga lakukan setting eksposure dan metering dengan tepat agar
tidak underexpose (foto
cenderung gelap). Tidak perlu takut melakukan trial and error,
jika terlalu gelap naikkan bukaan aperture misal dari f/11 menjadi f/8. Atau bisa
juga naikkan ISO, tapi jangan terlalu tinggi karena bisa membuat foto banyak
noise. Untuk shutter speed tidak ada patokan, tergantung tujuan
foto. Kita jelaskan di bagian Moment.
Bagian
paling sulit belajar fotografi adalah melakukan setting eksposure secara manual
mulai dari shutter speed, aperture dan ISO. Sekali lagi jangan takut
untuk mencoba, trial dan error sebanyak-banyaknya tanpa perlu takut kehabisan
film hehehe. Untuk metering paling aman gunakan saja evaluative, kecuali
ingin mengambil foto siluet maka harus menggunakan spot metering.
Moment
Saya
tidak akan mengatakan ini sebagai decisive moment karena ini bukan fotografi street.
Moment yang dimaksud disini adalah kejadian yang akan kita ambil yang bisa
membuat foto bercerita tanpa terlalu banyak kata. Saya ambil dua contoh moment
yang sama sekali berbeda dari satu obyek yang sama. Ombak.
1.
Ombak
yang menggetarkan. Ombak ini kita tangkap dalam foto untuk menunjukkan
kekuatannya atau keganasannya. Ombak harus terlihat detail, otot-ototnya,
bulir-bulir keringatnya seakan-mengancam pantai dan batu karang. Kita bisa
ambil moment ombak ini dengan kecepatan shutter tinggi sehingga ombak menjadi freeze dan detailnya terlihat. Syarat shutter
speed tinggi adalah cahaya cukup atau ISO cukup tinggi.
2.
Ombak
Kapas. Ini istilah saya pribadi saja, saya tidak begitu hapal istilah umumnya.
Intinya membuat ombak menjadi lembut, selembut helai-helai kapas. Caranya waktu
harus pagi sekali, saat cahaya masih sedikit. Alat wajib adalah tripod, karena
prosesnya adalah mengambil foto ombak dengan shutter speed lama, jadi akan
memberi efek pada ombak menjadi seperti kapas putih karena blur, sementara
obyek lainnya misal langit, pasir dan batu tetap tajam.
Moment lain yang bisa anda pikirkan adalah
perahu dan matahari, burung camar dan ombak, nelayan melempar pancing, jejak
pasir terhapus ombak dan lain sebagainya.
Filter
Saya pribadi terus terang jarang memakai
filter. Tapi intinya disini filter berfungsi sebagai alat bantu saja. Tidak
menjadi penentu foto akan menjadi lebih bagus, tetap faktor utamanya adalah
kita. Filter yang digunakan antara lain ND Filter (Neutral Density) yang
berfungsi untuk mengurangi banjir cahaya, cocok digunakan pada siang hari.
Kemudian ada filter UV yang berguna selain untuk perlindungan lensa tetapi juga
menyaring sinar ultraviolet dalam rentang tertentu. Hal ini dapat mengurangi
kabut atmosfer yang sering muncul di laut, meski efeknya tidak begitukentara.
Terakhir adalah filter Polarizing (CPL),
berfungsi untuk menyaring beberapa cahaya yang terpolarisasi . Intinya
mengurangi refleksi dan meningkatkan kontras, biasanya efek utamanya adalah
langit menjadi lebih biru, cenderung ke biru tua.

Komentar
Posting Komentar